Lahir dari semangat perjuangan yang tak pernah padam, GEPRINDO hadir untuk menjadi suara rakyat Indonesia yang sesungguhnya.
GEPRINDO berdiri sebarisan dengan cita-cita Bapak Presiden Prabowo Subianto: Indonesia yang makmur dan sejahtera, bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri, dan kekayaan tanah air yang benar-benar dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri.
Cita-cita itu bukan sekadar pidato. Ia berwujud ketika petani memanen dengan harga yang layak, ketika nelayan pulang membawa hasil yang cukup, ketika buruh menerima upah yang menghidupi keluarganya — ketika petani, nelayan, dan buruh Indonesia bisa tersenyum.
Tidak boleh ada anak Indonesia yang tidur dalam keadaan lapar. Tidak boleh ada kekayaan bangsa mengalir keluar sementara rakyatnya sendiri kekurangan. Inilah yang kami sebut keadilan sosial.
GEPRINDO didirikan pada 11 Juni 2015 oleh Bastian P. Simanjuntak bersama 12 pendiri lainnya melalui penandatanganan Piagam Pribumi Indonesia. Piagam ini ditandatangani tepat pukul 22.09 WIB sebagai tonggak lahirnya gerakan yang bertujuan memperjuangkan hak dan martabat rakyat pribumi Indonesia.
Terwujudnya Indonesia yang berkeadilan sosial, mandiri secara ekonomi, dan berdaulat penuh atas tanah airnya sendiri — di mana setiap warga negara mendapat kesempatan dan perlindungan yang sama di hadapan hukum.
Mendidik dan mengkader pemimpin bangsa yang berintegritas. Memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Membangun jaringan organisasi dari pusat hingga desa yang kuat dan terpercaya. Menjaga nilai-nilai kebangsaan dari ancaman disintegrasi dan kolonialisme baru.
GEPRINDO didirikan oleh 13 tokoh yang menandatangani Piagam Pribumi Indonesia pada 11 Juni 2015. Bastian P. Simanjuntak menjabat sebagai Presiden GEPRINDO sejak organisasi ini berdiri hingga saat ini.
Perjuangan tidak selesai ketika suara sudah lantang. Ia baru selesai ketika suara itu berubah menjadi keputusan. Inilah empat babak yang kami tempuh.
Sebelum ada kursi di ruang rapat, yang kami punya hanya suara, bambu, dan kertas karton.
Tuntutannya tidak pernah kabur — terbaca jelas pada spanduk yang diangkat hari itu: tolak kepemilikan asing, tolak MEA, dan kembali ke UUD 1945 asli. Tiga kalimat itu bukan slogan musiman. Sampai hari ini ketiganya masih menjadi dasar sikap GEPRINDO.


Gerakan yang hanya membela dirinya sendiri akan mati sendirian.
Sejak awal kami memilih berjalan bersama mereka yang paling langsung menanggung akibat kebijakan ekonomi: kaum buruh. Di barisan yang sama hari itu ada KSPI dan Garda Metal FSPMI — bukan sekadar hadir berdampingan, tetapi berbagi jalan, berbagi risiko, dan berbagi tuntutan.


Teriakan membuat orang menoleh. Tetapi yang membuat kebijakan berubah adalah argumen yang tidak bisa dibantah.
Maka setiap tuntutan yang kami bawa ke jalan, kami bawa juga ke forum — diadu dengan data, dibantah oleh yang tidak sepakat, lalu diperbaiki. Kerja ini sepi dari sorak dan jarang masuk berita. Di sinilah kemarahan diubah menjadi naskah.


Lambang Garuda di dinding, Merah Putih di sudut ruangan, dan jabat tangan di tengah. Inilah babak yang dituju sejak langkah pertama di jalan.
Bagi kami ini bukan akhir perjuangan, melainkan pemindahan medannya — dari suara yang menuntut didengar, menjadi argumen yang harus dijawab.


Setiap kursi di ruang perundingan itu ditopang oleh ribuan orang yang tidak tampak dalam foto. Tempat Anda ada di sana.
Bergabung dengan GEPRINDO