Beranda Tentang Program & Fokus Pusaka Layanan Manifesto Struktur Berita Kontak Masuk Daftar

Mengenal GEPRINDO

Lahir dari semangat perjuangan yang tak pernah padam, GEPRINDO hadir untuk menjadi suara rakyat Indonesia yang sesungguhnya.

Bastian P. Simanjuntak, Presiden GEPRINDO, bersama Bapak Prabowo Subianto
Bastian P. Simanjuntak, Presiden GEPRINDO, bersama Bapak Prabowo Subianto.
Cita-Cita Bersama

Mewujudkan Indonesia Raya

GEPRINDO berdiri sebarisan dengan cita-cita Bapak Presiden Prabowo Subianto: Indonesia yang makmur dan sejahtera, bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri, dan kekayaan tanah air yang benar-benar dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri.

Cita-cita itu bukan sekadar pidato. Ia berwujud ketika petani memanen dengan harga yang layak, ketika nelayan pulang membawa hasil yang cukup, ketika buruh menerima upah yang menghidupi keluarganya — ketika petani, nelayan, dan buruh Indonesia bisa tersenyum.

Tidak boleh ada anak Indonesia yang tidur dalam keadaan lapar. Tidak boleh ada kekayaan bangsa mengalir keluar sementara rakyatnya sendiri kekurangan. Inilah yang kami sebut keadilan sosial.

  • Swasembada pangan & energiBerdaulat atas piring dan tenaga sendiri — tidak menggantungkan perut rakyat pada bangsa lain.
  • Berdiri di atas kaki sendiriEkonomi yang mandiri dan percaya diri, sesuai amanat Trisakti.
  • Kekayaan Indonesia untuk rakyat IndonesiaHilirisasi agar nilai tambah tinggal di dalam negeri, bukan dikirim mentah ke luar.
  • Menuju Indonesia Emas 2045Generasi yang sehat, cerdas, dan bangga menjadi bangsa Indonesia.
GEPRINDO bukan sekadar penonton. Kami ikut bekerja — mendidik, mengorganisasi, dan mendampingi rakyat dari desa sampai kota, agar cita-cita Indonesia Raya benar-benar sampai ke rumah-rumah mereka.

Asal Usul

GEPRINDO didirikan pada 11 Juni 2015 oleh Bastian P. Simanjuntak bersama 12 pendiri lainnya melalui penandatanganan Piagam Pribumi Indonesia. Piagam ini ditandatangani tepat pukul 22.09 WIB sebagai tonggak lahirnya gerakan yang bertujuan memperjuangkan hak dan martabat rakyat pribumi Indonesia.

Visi

Terwujudnya Indonesia yang berkeadilan sosial, mandiri secara ekonomi, dan berdaulat penuh atas tanah airnya sendiri — di mana setiap warga negara mendapat kesempatan dan perlindungan yang sama di hadapan hukum.

Misi

Mendidik dan mengkader pemimpin bangsa yang berintegritas. Memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Membangun jaringan organisasi dari pusat hingga desa yang kuat dan terpercaya. Menjaga nilai-nilai kebangsaan dari ancaman disintegrasi dan kolonialisme baru.

Pendiri

GEPRINDO didirikan oleh 13 tokoh yang menandatangani Piagam Pribumi Indonesia pada 11 Juni 2015. Bastian P. Simanjuntak menjabat sebagai Presiden GEPRINDO sejak organisasi ini berdiri hingga saat ini.

Perjalanan Kami

Dari Jalanan ke Meja Perundingan

Perjuangan tidak selesai ketika suara sudah lantang. Ia baru selesai ketika suara itu berubah menjadi keputusan. Inilah empat babak yang kami tempuh.

I
Babak Satu

Yang Kami Bawa ke Jalan

Sebelum ada kursi di ruang rapat, yang kami punya hanya suara, bambu, dan kertas karton.

Tuntutannya tidak pernah kabur — terbaca jelas pada spanduk yang diangkat hari itu: tolak kepemilikan asing, tolak MEA, dan kembali ke UUD 1945 asli. Tiga kalimat itu bukan slogan musiman. Sampai hari ini ketiganya masih menjadi dasar sikap GEPRINDO.

Peserta aksi mengangkat kepalan tangan dan spanduk tuntutan
Aksi massa GEPRINDO. Tuntutan terbaca langsung pada spanduk yang diangkat peserta.
Kerumunan peserta aksi dengan spanduk dan bendera
Barisan memenuhi ruas jalan di kawasan perkantoran.
II
Babak Dua

Kami Tidak Berjalan Sendiri

Gerakan yang hanya membela dirinya sendiri akan mati sendirian.

Sejak awal kami memilih berjalan bersama mereka yang paling langsung menanggung akibat kebijakan ekonomi: kaum buruh. Di barisan yang sama hari itu ada KSPI dan Garda Metal FSPMI — bukan sekadar hadir berdampingan, tetapi berbagi jalan, berbagi risiko, dan berbagi tuntutan.

Barisan GEPRINDO berjalan bersama peserta berkaus KSPI
Barisan GEPRINDO berjalan beriringan dengan KSPI.
Pengurus GEPRINDO bergandengan tangan dengan anggota Garda Metal
Bergandengan tangan bersama anggota Garda Metal FSPMI.
III
Babak Tiga

Dari Teriakan ke Kajian

Teriakan membuat orang menoleh. Tetapi yang membuat kebijakan berubah adalah argumen yang tidak bisa dibantah.

Maka setiap tuntutan yang kami bawa ke jalan, kami bawa juga ke forum — diadu dengan data, dibantah oleh yang tidak sepakat, lalu diperbaiki. Kerja ini sepi dari sorak dan jarang masuk berita. Di sinilah kemarahan diubah menjadi naskah.

Forum diskusi dengan peserta duduk mengelilingi meja
Forum diskusi, pengurus GEPRINDO menyampaikan pandangan di hadapan peserta.
Pembahasan dokumen di meja bundar
Pembahasan naskah kajian sebelum dibawa ke forum resmi.
IV
Babak Empat

Sampai ke Meja Perundingan

Lambang Garuda di dinding, Merah Putih di sudut ruangan, dan jabat tangan di tengah. Inilah babak yang dituju sejak langkah pertama di jalan.

Bagi kami ini bukan akhir perjuangan, melainkan pemindahan medannya — dari suara yang menuntut didengar, menjadi argumen yang harus dijawab.

Audiensi resmi di ruang kerja lembaga negara
Audiensi resmi di ruang kerja lembaga negara, dihadiri pengurus GEPRINDO.
Foto bersama peserta konferensi
Konferensi pers bersama di bawah panji Majelis Agung Pribumi Nusantara Indonesia.
Kami tidak pernah menganggap jalanan dan meja perundingan sebagai dua kubu yang berlawanan. Jalanan yang membuat kami didengar; meja perundingan yang membuat kami dijawab. Gerakan yang berhenti di salah satunya saja tidak akan pernah menuntaskan apa pun.

Babak berikutnya butuh lebih banyak orang

Setiap kursi di ruang perundingan itu ditopang oleh ribuan orang yang tidak tampak dalam foto. Tempat Anda ada di sana.

Bergabung dengan GEPRINDO