Beranda Tentang Program & Fokus Pusaka Layanan Manifesto Struktur Berita Kontak Masuk Daftar Sekarang
Pusaka Nusantara · Budaya

Suku, Agama & Budaya Indonesia

Tidak ada negara lain yang harus menyatukan sebanyak ini. Bahwa Indonesia berhasil melakukannya adalah prestasi yang jarang disadari pemiliknya sendiri.

Keberagaman Indonesia bukan hiasan dalam pidato. Ia kenyataan sehari-hari yang harus dikelola, dan sudah dikelola jauh sebelum republik ini berdiri.

1.340kelompok suku tercatat dalam sensus BPS 2010
718bahasa daerah teridentifikasi Badan Bahasa
38provinsi dari Sabang sampai Merauke
6agama diakui negara, di samping aliran kepercayaan

Suku Bangsa

Sensus Badan Pusat Statistik 2010 mencatat lebih dari 1.300 kelompok suku. Jawa merupakan yang terbesar, disusul Sunda, Batak, Madura, Betawi, Minangkabau, Bugis, dan ratusan lainnya — banyak di antaranya berjumlah hanya beberapa ribu jiwa.

Angka itu sendiri bukan yang paling penting. Yang penting adalah ini: tidak ada satu suku pun yang merupakan mayoritas mutlak di negeri ini. Bahkan suku terbesar tidak mencapai separuh penduduk. Secara alamiah, tidak ada kelompok yang bisa memerintah sendirian. Republik ini dirancang untuk berbagi, karena memang tidak ada pilihan lain.

Bahasa

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah mengidentifikasi ratusan bahasa daerah. Papua dan Nusa Tenggara adalah wilayah dengan keragaman bahasa tertinggi — di satu pulau bisa terdapat puluhan bahasa yang tidak saling dimengerti.

Namun sebagian besar berada dalam bahaya. Banyak bahasa daerah kini hanya dituturkan oleh generasi tua, dan beberapa telah dinyatakan punah. Ketika sebuah bahasa mati, yang hilang bukan sekadar kosakata — melainkan cara memandang dunia, nama-nama tumbuhan obat, dan sastra lisan yang tidak pernah dituliskan.

Agama dan Kepercayaan

Negara mengakui enam agama: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Di samping itu hidup pula ratusan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berakar pada tradisi setempat — Kaharingan di Kalimantan, Marapu di Sumba, Sunda Wiwitan di Jawa Barat, Aluk Todolo di Toraja, dan lainnya.

Pada 2017 Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa penghayat kepercayaan berhak mencantumkan identitasnya pada kolom agama di dokumen kependudukan. Putusan itu penting: ia menegaskan bahwa pengakuan negara tidak boleh berhenti pada enam pintu saja.

Warisan Budaya yang Diakui Dunia

Sejumlah warisan budaya takbenda Indonesia telah masuk daftar UNESCO. Bukan sekadar penghargaan — pengakuan itu juga menjadi tameng hukum ketika ada pihak lain yang mengklaimnya.

WarisanAsal & Keterangan
WayangSeni pertunjukan yang memadukan sastra, musik, dan filsafat
KerisBilah pusaka dengan tata simbol dan pamor yang rumit
BatikSeni menahan warna dengan malam; tiap daerah punya ragam sendiri
AngklungAlat musik bambu dari Sunda; satu orang satu nada, harus bersama
Tari SamanGerak serempak dari Gayo, Aceh
NokenTas rajut Papua yang dianyam tanpa alat
PinisiSeni pembuatan kapal kayu Bugis-Makassar
Pencak SilatSeni bela diri yang juga mengajarkan laku dan adab
PantunTradisi lisan Melayu, diajukan bersama Malaysia
GamelanOrkestra logam Jawa, Bali, dan Sunda

Perhatikan angklung dan gamelan. Keduanya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak bisa dimainkan sendirian. Satu orang hanya memegang satu nada. Musik baru terdengar ketika semua bermain pada saatnya masing-masing. Sulit menemukan perumpamaan yang lebih tepat untuk republik ini.

Penari Saman dari Aceh.
Penari Saman dari Aceh.Muhammad Iqbal · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
Pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo, Bandung.
Pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo, Bandung.Irhanz · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
Pertunjukan wayang kulit.
Pertunjukan wayang kulit.FaizAttariqi · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
Perajin batik membentuk pola dengan canting di Trusmi, Cirebon.
Perajin batik membentuk pola dengan canting di Trusmi, Cirebon.Ahaetulla · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons

Bhinneka Tunggal Ika

Semboyan itu diambil dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14 — jauh sebelum Indonesia ada. Konteks aslinya adalah kerukunan antara pemeluk Siwa dan Buddha di masa Majapahit.

Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa.
Berbeda-beda tetapi satu jua; tidak ada kebenaran yang mendua.Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular, abad ke-14

Yang sering terlupa adalah bagian keduanya. Semboyan itu tidak berhenti pada “berbeda tetapi satu”. Ia dilanjutkan dengan penegasan bahwa kebenaran tidak terpecah. Keberagaman bukan berarti segalanya sama benar — melainkan bahwa jalan yang berbeda dapat menuju kebaikan yang sama.

Sikap GEPRINDO

Keberagaman hanya menjadi kekuatan bila tidak ada kelompok yang merasa lebih berhak atas negeri ini daripada yang lain. Begitu satu kelompok merasa paling berjasa, keberagaman berubah menjadi ancaman.

Karena itu GEPRINDO membela hak seluruh warga secara sama — termasuk suku-suku kecil yang jumlahnya tidak cukup untuk menentukan hasil pemilu, dan penghayat kepercayaan yang selama ini dipersulit administrasinya.

Sumber & bacaan lanjutan

Angka dan daftar di atas dirujuk dari lembaga resmi berikut. Data kebudayaan terus diperbarui, jadi periksa langsung untuk versi terkini.