Beranda Tentang Program & Fokus Pusaka Layanan Manifesto Struktur Berita Kontak Masuk Daftar Sekarang
Pusaka Nusantara

Corak & Desain Nusantara

Dua puluh delapan ragam hias dari Aceh sampai Papua. Setiap garis pernah punya alasan — menandai asal, martabat, atau kepercayaan orang yang membuatnya.

Sebelum Indonesia punya bendera, ia lebih dulu punya corak.

Di banyak daerah, motif bukan sekadar hiasan. Ia penanda: dari mana seseorang berasal, sedang berada dalam upacara apa, bahkan siapa yang boleh dan tidak boleh mengenakannya. Parang di Jawa dahulu motif larangan. Sasirangan di Kalimantan Selatan semula kain pengobatan, bukan pakaian harian.

Ragam hias Nusantara juga merekam perjumpaan. Mega Mendung Cirebon menyimpan jejak persentuhan dengan budaya Tiongkok. Songket berkilau emas karena negerinya pernah menjadi simpul dagang dunia. Bunga pala di Maluku mengingatkan bahwa rempah pernah menarik kapal dari ujung bumi.

Halaman ini menyusunnya dari barat ke timur — bukan sebagai katalog mati, melainkan pengingat bahwa keberagaman kita sudah tergambar jauh sebelum ia dirumuskan menjadi semboyan.

Sumatera

Dari Gayo sampai Lampung
Ilustrasi Awan Berarak Gayo dari Aceh
01
Aceh
Awan Berarak Gayo

Awan yang berarak, dikenal pada kerawang Gayo dari dataran tinggi Aceh Tengah. Lengkungnya mengalir tanpa sudut tajam.

Ilustrasi Gorga Batak Toba dari Sumatera Utara
02
Sumatera Utara
Gorga Batak Toba

Ukiran penghias rumah adat Batak. Umumnya bermain pada tiga warna — merah, putih, dan hitam.

Ilustrasi Itik Pulang Patang dari Sumatera Barat
03
Sumatera Barat
Itik Pulang Patang

Barisan itik yang pulang beriringan menjelang petang. Bagi Minangkabau ia lambang tertib dan tahu jalan pulang.

Ilustrasi Pucuk Rebung dari Riau
04
Riau
Pucuk Rebung

Tunas bambu muda yang meruncing ke atas — motif Melayu yang lazim pada tenun dan ukiran. Perlambang sesuatu yang berguna sejak muda.

Ilustrasi Awan Larat dari Jambi
05
Jambi
Awan Larat

Awan yang berarak memanjang, salah satu ragam batik Jambi.

Ilustrasi Songket Palembang dari Sumatera Selatan
06
Sumatera Selatan
Songket Palembang

Tenun benang emas yang dahulu lekat dengan busana kebesaran. Kilaunya menandai kemakmuran negeri.

Ilustrasi Bunga Rafflesia dari Bengkulu
07
Bengkulu
Bunga Rafflesia

Mengambil rupa Rafflesia arnoldii, bunga raksasa endemik yang menjadi penanda Bengkulu.

Ilustrasi Tapis dari Lampung
08
Lampung
Tapis

Kain bersulam benang emas yang dikenakan pada upacara adat Lampung.

Ilustrasi Nanas Berantai dari Kepulauan Bangka Belitung
09
Kepulauan Bangka Belitung
Nanas Berantai

Buah nanas yang bersambung tak putus — motif yang tumbuh dari lanskap kebun.

Ilustrasi Belah Ketupat dari Kepulauan Riau
10
Kepulauan Riau
Belah Ketupat

Geometri belah ketupat, bentuk dasar yang berulang di banyak tenun Melayu.

Jawa, Bali & Nusa Tenggara

Pulau-pulau tempat batik dan tenun bertemu
Ilustrasi Mega Mendung dari Jawa Barat
11
Jawa Barat
Mega Mendung

Awan bergradasi khas Cirebon, berakar pada persentuhan dengan budaya Tiongkok. Lapis warnanya kerap dimaknai sebagai kesabaran menahan amarah.

Ilustrasi Parang Rusak dari Jawa Tengah
12
Jawa Tengah
Parang Rusak

Deret diagonal menyerupai ombak yang tak pernah putus. Dahulu termasuk motif larangan bagi kalangan di luar keraton.

Ilustrasi Kawung dari DI Yogyakarta
13
DI Yogyakarta
Kawung

Empat bulatan mengelilingi satu titik, kerap dikaitkan dengan buah aren. Dibaca sebagai lambang kesucian dan kendali diri.

Ilustrasi Sekar Jagad dari Jawa Timur
14
Jawa Timur
Sekar Jagad

“Bunga sedunia” — aneka motif ditambal dalam satu kain. Gambaran keberagaman yang berkumpul tanpa saling meniadakan.

Ilustrasi Baduy dari Banten
15
Banten
Baduy

Tenun masyarakat Baduy yang sengaja bersahaja — cerminan laku hidup yang menjauhi berlebih.

Ilustrasi Patra Punggel dari Bali
16
Bali
Patra Punggel

Ukiran daun paku muda yang melingkar, tulang punggung ragam hias arsitektur Bali.

Ilustrasi Tenun Ikat Sasak dari Nusa Tenggara Barat
17
Nusa Tenggara Barat
Tenun Ikat Sasak

Tenun ikat masyarakat Sasak di Lombok, dikerjakan dengan alat tenun bukan mesin.

Ilustrasi Tenun Ikat Sumba dari Nusa Tenggara Timur
18
Nusa Tenggara Timur
Tenun Ikat Sumba

Tenun ikat Sumba yang kerap menampilkan kuda dan sosok leluhur. Dahulu hanya ditenun untuk kalangan tertentu.

Kalimantan

Sulur, enggang, dan pohon kehidupan
Ilustrasi Dayak Burung Enggang dari Kalimantan Barat
19
Kalimantan Barat
Dayak Burung Enggang

Burung enggang gading — unggas yang dimuliakan masyarakat Dayak sebagai lambang kepemimpinan.

Ilustrasi Batang Garing dari Kalimantan Tengah
20
Kalimantan Tengah
Batang Garing

Pohon kehidupan dalam kepercayaan Kaharingan, menghubungkan dunia atas dan dunia bawah.

Ilustrasi Sasirangan dari Kalimantan Selatan
21
Kalimantan Selatan
Sasirangan

Kain jumputan Banjar. Semula bukan busana harian, melainkan kain untuk pengobatan dan upacara.

Ilustrasi Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur
22
Kalimantan Timur
Dayak Kenyah

Ragam hias sulur Dayak Kenyah yang saling berkait rapat, nyaris tanpa ruang kosong.

Sulawesi

Aksara, megalit, dan tenun kepulauan
Ilustrasi Tumtuman dari Sulawesi Utara
23
Sulawesi Utara
Tumtuman

Ragam hias yang berkembang di tanah Minahasa.

Ilustrasi Bada dari Sulawesi Tengah
24
Sulawesi Tengah
Bada

Berilham dari Lembah Bada di Lore Lindu, kawasan patung megalit purba.

Ilustrasi Lontara dari Sulawesi Selatan
25
Sulawesi Selatan
Lontara

Terinspirasi aksara Lontara Bugis-Makassar — sistem tulis yang merekam sastra dan silsilah.

Ilustrasi Kaendea dari Sulawesi Tenggara
26
Sulawesi Tenggara
Kaendea

Ragam tenun yang dikenal di wilayah Buton dan sekitarnya.

Maluku & Papua

Rempah dan ukir di ujung timur
Ilustrasi Bunga Pala dari Maluku
27
Maluku
Bunga Pala

Bunga pala — rempah yang dahulu memanggil kapal-kapal dagang dari ujung dunia ke Banda.

Ilustrasi Asmat dari Papua
28
Papua
Asmat

Ragam ukir Asmat yang lekat dengan penghormatan kepada leluhur. Ukirannya dikenal sampai ke luar negeri.

Tentang gambar di halaman ini

Gambar yang Anda lihat adalah ilustrasi digital — tafsir visual atas ragam hias Nusantara, bukan foto artefak museum maupun reproduksi resmi pola tradisional. Bentuk aslinya kerap lebih kaya, lebih beragam antar-perajin, dan menyimpan aturan yang tidak seluruhnya terwakili di sini.

Kami memilih menyatakannya terus terang. Ragam hias adalah milik komunitas yang mewariskannya, dan GEPRINDO tidak hendak menggantikan sumber aslinya. Untuk keperluan penelitian, pendidikan, atau perancangan produk, rujuklah lembaga di bawah ini — dan bila memungkinkan, datangi perajin dan tetua adatnya langsung.